Beranda | Artikel
Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlusunah (Bag. 2)
Senin, 31 Oktober 2022

Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah

Setelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.

Tauhid al-’ilmi

Tauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.

Tauhid al-’amali

Tauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)

Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.

Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)

Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,

والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.

والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.

“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:

Baca Juga: Tauhid dan Kecintaan

Tauhid al-qaul al-’ilmi

Tauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.

Tauhid al-’amali al-iradi

Tauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)

Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”

Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,

وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْد

فالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِ

كما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.

النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.

بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.

“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.

Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat

Tauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.

Tauhid al-mathlab wa al-qashdi

Tauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.

Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:

Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.

Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.

Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.

Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.

Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)

Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)

Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,

التوحيد نوعان

الأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.

الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.

“Tauhid ada dua macam, yaitu:

Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi

Yang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.

Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi

Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)

Baca Juga:

***

Penulis: Sakti Putra Mahardika


Artikel asli: https://muslim.or.id/79818-pembagian-tauhid-menurut-para-ulama-ahlussunnah-bag-2.html